Universitas Kristen Immanuel
Yogyakarta
"Integrity & Creativity"
Lokasi UKRIM
Alumni

Meraih Mimpi Versi Betty

Posting : Rabu, 07/03/2012

Melalui layar monitor di kantor, akhirnya saya bisa berhubungan on-line dengan seorang wanita berkacamata di ujung sana. Betty Francesca Saragih, seorang pekerja IT dari Venture Corporation Limited, sebuah perusahaan sub-contract manufacturing yang memproduksi komponen elektronik/printer/medical equipment yang dipesan oleh perusahaan-perusahaan lain (IBM, Hewlett-Packard adalah beberapa klien mereka) dan  berkantor pusat di  5006 Ang Mo Kio Avenue 5, Singapore.  Betty sering terlihat on-line di Yahoo Messenger saya, tapi baru kali ini saya bisa meminta dia untuk bercerita tentang dirinya.

“Saya masuk UKRIM Agustus 1990 dan diluluskan di bulan September tahun 1994” ujar wanita yang memiliki hobby backpacking (jalan-jalan ala hemat ) dan fotografi (street photography dan portrait photography), selain menyukai pula kombinasi warna merah, hitam dan putih. “ Sifat dominan yang ada pada saya adalah pendiam dan tidak suka berargumentasi, di satu sisi dua sifat ini terlihat bagus tapi kadang kala disalah tafsirkan orang, mereka berpikir bahwa saya sombong, sabar, pasif dan tidak tahu apa-apa” kata Betty sambil tersenyum. Banyak orang mengingat  sosok Betty sewaktu kuliah dulu sebagai mahasiswa yang sering menghabiskan waktu di Puskom (sekarang Pusat Teknologi & Informasi komputer/ PTIK). “ Salah satu yang saya ingat adalah aktifitas mengantri di lab. Puskom,  tiap mahasiswa diberikan jadwal untuk menggunakan Puskom  sesuai mata kuliah yang diambil. Saya paling bahagia kalau pada sesi berikutnya tidak banyak mahasiswa yang masuk sehingga saya bisa meneruskan pemakaian komputer dan bila jadwal pemakaian terakhir hampir berakhir (sekitar pukul 21:00 WIB), pengawas Puskom akan memberikan aba-aba  “SAVE! SAVE! SAVE!” supaya mahasiswa bersiap-siap untuk mematikan komputer. Jika tetap saja masih ada yang tidak mengabaikan aba-aba tersebut, maka dilanjutkan dengan aksi pengawas Puskom dengan mematikan lampu dan AC” katanya sambil tertawa.

Bercerita tentang pengalamannya dulu ketika masih kuliah di UKRIM, Betty mengingat betapa sangat bergantungnya mahasiswa pada lab. Puskom itu, semata untuk memenuhi kebutuhan tugas-tugas mata kuliah, ini dikarenakan  kepemilikan komputer di kalangan mahasiswa waktu itu masih minim “terkadang saya merasa bahwa jumlah unit komputer tidak sepadan dengan jumlah mahasiswa yang ada waktu itu” renungnya, sehingga meluangkan waktu di perpustakaan, dimana mencari bahan mengenai integral dan kalkulus, adalah sebuah menu wajib. ”Waktu itu tidak mudah bagi saya untuk memahami  keduanya. Dari situlah saya mengetahui bahwa ternyata banyak buku matematika ditulis oleh orang India” ujarnya.

Ketika ditanya apakah anda belajar secara mandiri/otodidak untuk materi-materi kuliah yang tidak didapatkan dari kampus, Betty menjawab bahwa tidak ada pilihan lain selain mempelajari apa yang dibutuhkan pasar saat ini. Bila kemampuan seorang lulusan Perguruan Tinggi  tidak memenuhi apa yang menjadi tuntutan pasar maka kecil kemungkinan dia akan diterima bekerja oleh suatu perusahaan. Oleh karena itu Betty memiliki kebiasaan mengkoleksi iklan-iklan lowongan pekerjaan di koran dari perusahaan-perusahaan favorit & menempelnya di belakang pintu kamar. “Waktu itu saya hanya membayangkan betapa bangganya saya bilamana saya diterima di salah satu perusahaan besar itu, tapi lambat laun iklan-iklan itu berubah fungsinya, sebab bila dilihat dari sudut pandang yang lain, iklan-iklan itu berbicara mengenai  kriteria kemampuan yang dicari oleh perusahaan-perusahaan favorit tersebut” ujarnya. Betty memberi contoh, misalnya saat itu yang diajarkan adalah bahasa pemrograman Pascal sedangkan yang banyak dibutuhkan adalah “Clipper”, tentu saja dia tidak melihat mata kuliah bahasa pemrograman Clipper di kampus, jadi kalau ingin “laku” tidak ada pilihan lain baginya selain mencari tahu tentang siapakah atau mahluk apakah “Clipper” itu. Karena pada saat itu Betty sudah mengenal dasar-dasar bahasa pemrograman melalui Pascal, mempelajari bahasa pemrograman lain bukan suatu masalah yang berarti baginya & hal itu masih berlangsung sampai saat ini. 

Memulai perjalanan karir

Selepas lulus kuliah Betty diterima bekerja di sebuah sebuah bank lokal (sebagai programmer Clipper), kemudian  berpindah ke perusahaan produsen makanan skala nasional dan bekerja disana selama hampir 11 tahun. Ketika bergabung dengan perusahaan ini, Betty merasa bahwa menetapkan target dalam segala sesuatu yang dilakukannya adalah hal penting, tentu saja bukan target yang melambung tinggi melainkan sebuah target yang masuk akal, tapi tetap harus diatas rata-rata. “Saya biasanya tidak akan menghentikan usaha saya sebelum saya melalui target saya.”

Di awal tahun 2008 Betty bergabung dengan  Venture, perusahaan yang di temukannya melalui browsing internet secara acak, dimana proses perekrutan pegawai baru dilakukan seluruhnya melalui telepon dan email. Hal ini mengakibatkan dia harus pindah bermukim di Singapore, sebuah tempat yang berbeda kultur kerjanya dibandingkan dengan sewaktu bekerja di Indonesia, dimana biasanya hari Jumat di Jakarta dianggap sebagai “hari pendek”, lebih santai, datang bisa sedikit lebih siang, jam makan siang bisa lebih panjang, tapi di Singapore hari jumat tidak berbeda dengan hari kerja lainnya. Demikian juga pada hari-hari sebelum atau sesudah hari raya (misalnya hari pertama masuk setelah pergantian tahun, tanggal 2 Januari atau 31 Desember) karyawan berkerja  selayaknya hari kerja biasa. “Kemudian menggunakan earphone pada saat bekerja juga bukan sesuatu yang disarankan karena pimpinan dapat menyalahartikan karyawan sebagai tidak cukup assignment”  sarannya. Tapi memang masih ada beberapa pekerja yang menggunakan sistem jam karet walau jumlahnya kurang dari 10%. 

Pendapat anda tentang peluang kerja seorang Fresh Graduate dari perguruan tinggi untuk bisa bekerja di luar negeri ?

“Seorang Fresh graduate tidak menutup kemungkinan untuk diterima bekerja di perusahaan di luar Indonesia asalkan kemampuannya sesuai dengan kebutuhan perusahaan terkait. Selain itu kemampuan berbahasa Inggris juga memiliki andil yang tinggi” pendapatnya ketika ditanya tentang peluang kerja seorang Fresh Graduate. Betty menceritakan tentang seorang teman Indonesianya di Singapore yang baru saja selesai mewawancarai 2 orang kandidat. Yang pertama berkebangsaan India, mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris yang sangat lancar tetapi kemampuan teknisnya tidak memadai. Sedangkan yang kedua adalah orang Indonesia dengan bahasa Inggris yang kurang lancar, pada akhirnya sesi wawancara dilanjutkan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan diketahui bahwa kandidat yang ke-dua ini pandai dan kemampuan teknisnya mencukupi. Walaupun teman Betty ini merekomendasikan kandidat dari Indonesia tetapi pimpinan perusahaan tidak menyetujui, sebab komunikasi adalah salah satu aspek yang penting menurut sang pimpinan.

Betty berpendapat bahwa seseorang dapat memenangkan kompetisi hanya jika apa yang dimilikinya melebihi milik orang lain. Dalam hal teknologi informasi yang berlari sangat cepat seperti saat ini, apa yang kita ketahui sekarang akan segera menjadi usang bila kita tidak berkeinginan untuk memperbaharui / meng-update pengetahuan kita.

“Setelah kita menangkap ide dari pengetahuan di bangku perguruan tinggi, tidak ada pilihan lain selain daripada memperlengkapi diri sesuai dengan kebutuhan pasar” demikian harapan betty bagi alumnus perguruan tinggi yang akan memasuki dunia kerja/karir, mengakhiri perbincangan kami. (Yn)

Universitas Kristen Immanuel
Jl. Solo Km 11,1
Yogyakarta
(0274)496256.
humas@ukrimuniversity.ac.id